Dana Yang Terkumpul   
Muhamad rais bin H.M Yahya    Rp. 100.000
Endang bin nano    Rp. 50.000
Endang bin nano    Rp. 100.000
saripin bin samat    Rp. 100.000
Endang bin nano    Rp. 100.000
Endang bin nano    Rp. 100.000
muhamad lutfi aji a.p bin joko    Rp. 500.000
Endang bin nano    Rp. 100.000
Eman bin Pulan    Rp. 100.000
Endang bin nano    Rp. 100.000
Total Dana Rp. 36.267.670

Berita Dan Kegiatan

Investasi Abadi

Memiliki amal yang pahalanya mengalir abadi adalah harapan setiap mukmin yang sadar akan pentingnya amal di akhirat.

Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila Anak Adam Wafat (meninggal), terputuslah amal perbuatannya, kecuali dari tiga perkara, yaitu sodaqoh jariyah (Amal yang mengalir terus-menerus), ilmu pengetahuan yang bermanfaat, dan anak yang soleh“ (HR. Muslim)

Sebagian ulama memahami sedekah jariyah dengan wakaf. An-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini, beliau menuliskan,

وَكَذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ وَهِيَ الْوَقْفُ

"Demikian pula sedekah jariyah, yang itu merupakan wakaf." (Syarh Shahih Muslim, 11/85)


Keterangan lain juga disampaikan al-Khatib as-Syarbini – ulama syafiiyah (wafat 977 H). Dalam Mughni al-Muhtaj, beliau mengatakan,

الصدقة الجارية محمولة عند العلماء على الوقف كما قاله الرافعي ، فإن غيره من الصدقات ليست جارية

“Sedekah jariyah dipahami sebagai wakaf menurut para ulama, sebagaimana keterangan ar-Rafi’i. Karena sedekah lainnya bukan sedekah jariyah.” (Mughni al-Muhtaj, 3/522).

Sedekah dalam bentuk makanan yang kita berikan untuk seseorang, tidak bisa bertahan lama karena habis pakai. Begitu makanan ini selesai dikonsumsi, akan habis pula faedahnya dalam kata lain manfaatnya tidak panjang dan hanya dinilai sedekah. Maka dari itu alangkah baiknya kita mewakafkan harta bersifat langgeng dan tidak bisa habis pakai, misalnya tanah.


Fitri

Komentar